Miris Jika Melihat Seorang Ibu Bertahan Tinggal di Gubuk Yang Sudah Reok

Miris Jika Melihat Seorang Ibu Bertahan Tinggal di Gubuk Yang Sudah Reok

Selasa, 20 Januari 2026

 

Soppeng SulSel Indonesia, RT Com 

Masihkah ada rasa kasihan orang yang kelebihan harta melimpah, memiliki rumah mewah , kendaraan mewah Rupiah hingga Miliaran rupiah namun masih tersimpan potret kehidupan masyarakat yang luput dari perhatian.

Foto Kondisi Rumah Tersebut


Namun di Kabupaten Soppeng, Sulawesi Selatan, kisah pilu idialami oleh seorang perempuan paruh baya bernama Ibu Mariati, yang hingga kini bertahan hidup dalam kondisi serba keterbatasan.



Perempuan berusia 61 tahun tersebut tinggal di sebuah rumah kayu tua yang kondisinya sudah Reok nyaris roboh di Jalan Sunu, RT 003 RW 004, Kelurahan Lemba, Kecamatan Lalabata. 

Rumah yang dihuninya bukan lagi sekadar sederhana, melainkan sudah jauh dari kata layak dan berisiko membahayakan keselamatan nyawa penghuninya 
Sejak sang suami meninggal dunia, Ibu Mariati harus menjalani kehidupan seorang diri. Ia memiliki seorang anak perempuan yang telah berkeluarga dan tinggal terpisah.

 Sejak saat itu, seluruh beban hidup harus ia pikul sendiri, tanpa pendamping, dengan kondisi ekonomi yang sangat terbatas.


Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, Ibu Mariati bekerja sebagai buruh cuci dan membersihkan rumah warga di sekitar tempat tinggalnya. 

Penghasilannya tidak menentu dan sering kali tidak mencukupi kebutuhan harian. Meski demikian, dengan keteguhan dan kesabaran, ia tetap bertahan serta mensyukuri apa pun rezeki yang diperolehnya demi melanjutkan hidup.

Hasil pantauan awak media menunjukkan kondisi rumah Ibu Mariati yang sangat memprihatinkan. Bangunan kayu yang telah lapuk dimakan usia tampak rapuh dan rawan ambruk. Sabtu 10 Januari 2026

Dinding rumah tidak lagi kokoh, atap seng berlubang di berbagai bagian, sementara bagian belakang rumah sudah roboh

. Saat hujan turun, air dengan mudah merembes masuk ke dalam rumah. 

Bahkan, demi menghindari hujan dan potensi runtuhan bangunan, Ibu Mariati terpaksa bertahan di kolong rumah.

Kisah pilu ini semakin menyayat hati karena Ibu Mariati tidak hanya berjuang untuk dirinya sendiri. 

Di rumah yang tidak layak huni tersebut, ia juga merawat seorang kerabat yang mengalami gangguan jiwa (ODGJ). 

Tanggung jawab itu kian menambah berat beban hidup yang harus ia jalani, baik secara fisik maupun mental.


Salah seorang warga setempat, Nurjannah, mengungkapkan bahwa Ibu Mariati kerap mendapat bantuan dari warga sekitar dan kerabatnya untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.

“Kadang dibantu warga dan keluarga karena kasihan melihat kondisinya,” ujar Nurjannah.


Ia juga menyampaikan bahwa rumah Ibu Mariati sebenarnya telah beberapa kali diusulkan untuk mendapatkan bantuan bedah rumah. 

Namun hingga kini, bantuan tersebut belum juga terealisasi.

“Sudah sering diusulkan untuk bedah rumah, tapi sampai sekarang belum ada realisasinya,” tambahnya dengan nada prihatin.

Melalui pemberitaan ini, warga sekitar berharap adanya perhatian serius dari pemerintah daerah maupun pihak terkait.


 Mereka berharap Ibu Mariati segera mendapatkan bantuan bedah rumah agar dapat tinggal di hunian yang layak, aman, dan manusiawi—sebuah hak dasar yang semestinya dapat dirasakan oleh setiap warga negara